Peluang Usaha Ternak Ayam di Desa, Omset 150 Juta

Peluang Usaha Ternak Ayam di Desa, Omset 150 Juta

Kesempatan untuk membangun usaha ternak ayam di kampung sangat terbuka lebar. Situasinya mendukung. Ongkos tenaga kerjanya juga cukup murah.

Anda bisa memilih bisnis ayam broiler/potong, kampung, ataupun petelur.

Ketiganya tentu memiliki karakteristik yang berbeda. Namun semua punya peluang besar untuk mendapatkan untung melimpah dan dikembangkan menjadi besar.

Peluang Bisnis Ternak Ayam di Pedesaan

  Peluang Usaha Ternak Ayam

Kenapa Anda harus memilih untuk memulai usaha ternak ayam?

  • Daging dan telurnya termasuk jenis makanan yang selalu dibeli setiap hari.
  • Banyak warung dan restoran selalu menyediakan lauk telur dan daging ayam.
  • Telur merupakan salah satu bahan utama roti dan banyak jenis jajanan pinggir jalan.
  • Usia panen lumayan cepat.
  • Bisa memulai dengan sistem partner bersama perusahaan atau mulai sendiri dari awal.
  • Di kampung, biaya tenaga kerja cukup terjangkau dan banyak tersedia lahan kosong yang jauh dari pemukiman warga.

6 hal tersebut merupakan alasan besar bagi Anda untuk segera memanfaatkan kesempatan menjual ayam potong maupun telurnya.

Resiko Usaha Ternak Ayam

Anda juga harus tahu resiko apa saja yang harus Anda hadapi dan cari solusinya ketika membangun peternakan.

Berikut adalah risiko yang paling sering muncul.

  • Banyak pesaingnya. Baik itu skala kecil rumahan, skala sedang dengan ribuan ekor, dan besar dengan puluhan sampai ratusan ribu ekor.
  • Area kandang ayam terkenal dengan baunya yang menyengat.
  • Mudah terkena penyakit jika kebersihan dan kesehatannya tidak terjaga.
  • Harganya naik turun.

Yang paling menyusahkan dalam jangka panjang adalah bau kandang. Jika Anda berniat membangun usaha ternak ayam skala menengah, maka usahakan pilih area kandang yang jauh dari pemukiman. Minimal radius 750m kosong dari perkampungan.

Sedangkan risiko penyakit, dapat Anda atasi dengan rajin memberikan vaksinasi.

Kisah Sukses Pengusaha Peternak Ayam

Kisah Pebisnis sukses ayam potong, doc, petelur, dan kampung

Berikut ini adalah 2 kisah entrepreneur yang sukses menjalankan usaha ternak ayam dari nol hingga mencapai omset ratusan dan miliaran rupiah.

Bambang Krista

Memulai usaha ayam broiler tahun 1990. Lalu beralih ke jenis kampung tahun 1998 karena harga pakan naik drastis akibat krisis. Kemudian pada 2005 memulai DOC (Day Old Chicken), ayam umur sehari untuk pembibitan.

Berkat kegigihannya, kini produksinya mencapai 40.000 DOC dan 10.000 butir telur serta 10.500 ekor untuk konsumsi dalam seminggu. Total omsetnya mencapai 400jutaan per bulan.

Kunci sukses yang Bambang bagi adalah jeli melihat pasar, jalin dan bina komunikasi yang baik dengan pembeli, tetap mau melayani pelanggan recehan.

Abdullah Hadi, Mantan TKI

Setelah 3 tahun menjadi TKI Korea, Abdullah Hadi pulang dan memulai bisnis lele. Sayangnya, usaha pertama itu gagal. Akhirnya tahun 2005 mengikuti pelatihan dari BNP2TKI dalam bidang peternakan ayam.

Berbekal sertifikat tanah, Abdullah Hadi mengajukan pinjaman Rp 2 Miliar ke BNI. Uang tersebut untuk membangun peternakan ayam dengan cara berpartner dengan salah satu anak perusahaan pakan dan pembibitan besar di Indonesia.

Kini, dia telah mengelola 24 kandang dengan isi sekitar 600.000 ekor. Total omset per bulan mencapai Rp 1 M sampai Rp 2 M.

Kunci sukses Abdullah Hadi adalah tidak lupa untuk memperdayakan sesama mantan TKI untuk menjadi investor kandang. Pun begitu, 1 kandang dapat dimiliki bersama sampai 4 orang.

Strategi Bisnis Peternakan Ayam

Baik semenjak pembangunan kandang, pembibitan dan penjualan, Anda sudah harus menerapkan strategi berikut ini.

  • Pilih lokasi kandang yang jauh dari pemukiman agar tidak diprotes warga karena bau kotoran yang menyengat, radius 750m.
  • Bangun kandang yang ideal untuk pertumbuhan ayam. Terutama terkait sirkulasi udara dan suplai cahaya matahari. Tujuannya agar suhu udara stabil terus sepanjang siang dan malam.
  • Pastikan suplai listrik dan air mencukupi.
  • Selalu berikan makan, obat, dan vaksinasi secara rutin dan teratur sesuai jadwal jam, hari, dan usianya.
  • Bersihkan kotoran setiap hari.
  • Bersihkan seluruh kandang, tempat makan, dan peralatan lainnya setelah masa panen dan sebelum siklus baru dimulai.
  • Cek rutin tumbuh kembang ayam dalam masa kritis yaitu 14 hari pertama.
  • Mendekati musim harga naik, Anda bisa menyiasatinya dengan menambah produksi 1 periode sebelumnya. Misalnya saat mau hari raya idul fitri, natal, dan tahun baru.
  • Jalin kerja sama dengan perusahaan besar karena lebih aman dalam hal suplai bibit dan harga jual karena sudah ditetapkan.
  • Bangun mitra untuk menjadi investor dari jejaring Anda.
  • Bina komunikasi yang intens dengan pelanggan dan suplier.

Analisis Bisnis dan Simulasinya

Simulasi Usaha Peternakan Ayam dengan Omset 150juta per tahun

Sebagai contoh analisa bisnis, akan disajikan simulasi membangun usaha ayam potong skala kecil-menengah. Skala ini sangat cocok dilakukan oleh perseorangan dengan modal kecil.

Asumsi yang akan digunakan adalah 500 bibit dengan sewa pemakaian lahan 100m2.

Investasi Awal

Rincian modal awal yang dibutuhkan sebagai berikut :

  • Sewa Lahan Luas 100 m2 : Rp 9.500.000,-.
  • Kandang : Rp 5.250.000,-.
  • Peralatan Makan dan Minum : Rp 725.000,-.
  • Peralatan Lainnya : Rp 725.000,-.

Total investasi yang harus Anda siapkan di permulaan untuk menjalankan usaha peternakan di desa ini adalah Rp 16.200.000,-. Biaya ini belum termasuk beli bibit ayam karena masuk biaya tersebut masuk elemen pendapatan.

Biaya Operasional

Selain bibit untuk digemukkan, Anda perlu membeli makanan, obat, vaksin, listrik, karyawan, dan alokasi penyusutan atas peralatan dan kandang yang telah Anda buat.

  • 500 Bibit Ayam : Rp 250.000,-.
  • 12 Karung Pakan : Rp 2.000.000,-.
  • Obat dan Vaksin : Rp 300.000,-.
  • Listrik : Rp 225.000,-.
  • Penyusutan : Rp 600.000,-.
  • 2 Karyawan : Rp 4.000.000,-.

Jadi total biaya operasional untuk sekali masa panen adalah Rp 7.375.000,-.

Jika digabungkan dengan investasi awal, maka besar modal yang harus Anda rogoh di awal untuk siap beternak adalah Rp 16.200.000 + Rp 7.375.000 = Rp 23.575.000,-.

Pendapatan

Yang perlu Anda cari tahu adalah berapa bobot dan usia layak panen ayam broiler?

Ayam potong dapat dipanen ketika beratnya sudah mencapai 1,5kg. Bobot tersebut rata-rata tercapai ketika usianya sudah berumur 30-35 hari.

Dengan data tersebut, maka estimasi pendapatan yang akan Anda dapatkan adalah :

  • 500 ekor Ayam x 1,5kg x Rp 20.000 = Rp 15.000.000,-.

Laba yang akan diperoleh adalah :

  • Rp 15.000.000 – Rp 7.375.000 = Rp 7.625.000,-.

Jika dirata-rata selama setahun, maka omset yang akan Anda dapatkan sekitar Rp 150juta – Rp 180 juta. Laba yang diperoleh selama setahun senilai Rp 70 juta – Rp 90 juta.

Estimasi BEP

Jika perolehan laba Anda setiap kali masa panen stabil di angka Rp 7.625.000, maka perkiraan modal awal Anda akan kembali atau BEP dalam masa 2,12 kali panen atau sekitar 3-4 bulan.

Nah, peluang usaha ternak ayam ternyata menggiurkan sekali ya. Anda bebas memilih usaha ayam potong, bisnis ayam petelur, maupun peternakan ayam kampung. Yang penting, jangan takut memulai.

Anda bisa melihat kilas balik 2 kisah sukses pengusaha ayam yang disebutkan di atas. Mereka tetap gigih meski pernah gagal dan terus maju mengembangkan peternakannya dengan cara yang baik.

Jadi, meskipun hidup di pedesaan, sukses itu bisa diraih. Jangan dikira, ayam dan telur yang ada di kota dan restoran ternama kebanyakan disuplai dari peternakan desa.