Mitos Ayam Pelung, dari Mimpi sampai Legenda Gunung Tangkuban Perahu

Ayam pelung adalah salah satu jenis berkokok yang kualitas suaranya tak kalah dari ayam bekisar. Dari mana asal usul ayam ini bisa dilihat dari berbagai mitos ayam pelung yang beredar di masyarakat. Supaya tidak salah membedakan ayam pelung dengan yang lainnya, perlu diperhatikan ciri-cirinya. Ciri ayam pelung yang asli adalah pertama, bulunya yang berwarna hitam merah dan hijau mengkilap.

Kedua jengger dan pialnya memiliki warna merah dengan paruh dan kaki berwarna putih. Jenis ayam pelung yang dapat berkokok panjang adalah ayam jantan dengan postur tubuh lebih besar. Bobot ayam pelung yang sehat bisa mencapai 5 hingga 6 kg. Supaya ayam sehat, tak perlu memperhatikan mitos memelihara ayam pelung yang santer terdengar. Apa saja mitos mengenai ayam pelung terkait dengan asal usulnya?

 

Mitos Ayam Pelung yang Menjelaskan Asal Usulnya

Mitos adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan, mitos juga bukanlah sebuah sejarah. Mitos bisa dikatakan sama dengan legenda yang merupakan cerita sebagai dongeng anak-anak. Contohnya saja mitos ayam berkokok pada tengah malam yang dikaitkan dengan kehadiran makhluk gaib.

Tentu saja tak ada yang bisa digunakan sebagai bukti nyata bahwa ayam yang berkokok pada tengah malam disebabkan oleh keberadaan makhluk gaib atau hantu. Tapi kali ini mitos ayam pelung bukan tentang makhluk gaib dan lebih ke arah asal-usulnya. Masih belum banyak yang tahu dari mana asal usul ayam pelung tapi sudah banyak motif yang menceritakan dari mana ia berasal.

 

Ada tiga mitos yang banyak didengar mengenai ayam pelung. Mitos ini berupa asal-usul ayam pelung dan legenda rakyat Indonesia.

 

1. Ayam Pelung Mama Djarkasih – 1850

Versi yang pertama berasal dari tahun 1850 an di mana ayam pelung pertama dipelihara oleh kyai yaitu H. Djarkasih yang kerap disebut dengan Mama Acih. Pada suatu malam, kyai yang bertempat tinggal di Desa Bunikasih Cianjur Jawa Barat ini mendapatkan mimpi. Dalam mimpinya ia bertemu Eyang Surya Kencana yang merupakan putra sulung Bupati Cianjur pertama.

Pada mimpi tersebut, Mama Acih disuruh untuk mengambil dan memelihara sepasang anak ayam yang ada di kebun belakang rumah. Pada esok harinya, Mama Acih kemudian pergi ke kebun belakang rumah dan benar saja, terdapat sepasang anak ayam tanpa induknya. Perawakan anak ayam itu cukup tinggi dan besar namun memiliki bulu yang jarang.

Mama Acih kemudian memelihara sepasang anak ayam tersebut hingga dewasa. Ketika sudah besar, anak ayam tersebut memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan ayam lokal. Suara kokoknya lebih panjang dan memiliki irama yang merdu. Suaranya yang merdu inilah membuat banyak masyarakat menyukainya. Maka disebutlah ayam tersebut dengan ayam pelung.

 

2. Ayam Pelung H. Kosim – 1940

Versi mitos ayam pelung yang kedua berasal dari Kecamatan Warung Kondang, Cianjur. Pada tahun 1940 an terdapat murid yang berguru pada Mama Ajengan Gudang bernama H. Kosim. Pada saat hendak bertemu gurunya, H. Kosim melihat beberapa anak ayam yang sedang diasuh oleh ibunya. Namun salah satu anak ayam tersebut memiliki ukuran tubuh besar dan tinggi berbeda dengan anak ayam lainnya.

H. Kosim pun berkeinginan untuk merawat anak ayam yang berbeda tersebut dan mengatakannya kepada gurunya. Mama Ajengan pun memperbolehkan H. Kosim untuk memelihara anak ayam tersebut hingga dewasa. Ketika sudah besar, anak ayam tersebut tetap memiliki postur tubuh yang lebih besar dan mengeluarkan suara kokok yang merdu.

Suaranya panjang dan juga besar serta memiliki irama yang merdu. Oleh karena itu warga desa pun menyebutnya dengan ayam pelung. Apabila dilihat dari cerita pertama dan kedua ada satu kesamaan yang bisa ditarik yaitu lokasinya yang sama-sama berasal dari Cianjur Jawa Barat. Selain dari mitos ini juga, memang benar bahwa ayam pelung banyak dilestarikan hingga saat ini oleh masyarakat di Jawa Barat.

 

3. Ayam Pelung dalam Legenda Tangkuban Perahu

Ada juga masyarakat yang percaya dengan mitos ayam pelung dalam legenda Gunung Tangkuban Perahu. Ayam pelung muncul pada hampir bagian akhir cerita yaitu ketika Dayang Sumbi yang mencari akal supaya tidak menikah dengan Sangkuriang. Ketika Sangkuriang hampir berhasil memenuhi permintaan Dayang Sumbi yaitu membuat danau maka Dayang Sumbi pun mencari akal untuk menggagalkannya.

Dayang Sumbi menebarkan kain hasil tenunannya ke arah timur. Kemudian ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal supaya usaha Sangkuriang gagal. Seketika itu juga permintaan Dayang Sumbi dikabulkan. Kain tenun yang disebarkan di arah timur berubah warna kemerah-merahan dan bercahaya seolah-olah matahari sedang terbit.

Para ayam jangan yang melihat munculnya matahari terbit tersebut kemudian berkokok dengan nyaring dan panjang. Makhluk halus yang tadinya membantu pekerjaan Sangkuriang pun pergi dan usahanya membuat danau gagal. Sangkuriang pun marah.

Dari mitos yang ketiga ini, ayam yang berkokok dipercaya masyarakat adalah ayam pelung. Suara ayam pelung yang panjang dan juga nyaring berhasil mengusir roh halus yang takut oleh matahari. Sehingga usaha Sangkuriang untuk memenuhi keinginan Dayang Sumbi supaya dapat menikahinya pun gagal.

Memang benar mitos ayam pelung sebagai ayam berkokok di legenda Sangkuriang. Karena pada kenyataannya kokokan ayam pelung sangat nyaring dan panjang. Ketika pagi hari akan terdengar suara yang khas dari ayam pelung jantan yang sehat. Masyarakat saat ini pun banyak yang memanfaatkan kelebihan ayam pelung menjadi bahan perlombaan.