Peluang Usaha Toko Bangunan, Modal Besar Tapi Pasti Untung

Usaha toko bangunan memang bermodal besar, tapi profit margin-nya juga tinggi. Bila sedang menerima proyek, keuntungannya bisa sampai 70%.

Itulah mengapa sampai sekarang, mayoritas pemilik toko bangunan jadi seorang pebisnis yang kaya raya sebab usahanya benar-benar menghasilkan. Rumah besar dan mobil berjejer menjadi bukti akan keberhasilannya.

Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai cara mudah membuka toko bangunan. Mulai dari peluang, risiko, hingga strategi untuk mendapatkan modal dan mengatasi toko yang sepi.

Selengkapnya, silakan simak ulasan di bawah ini sampai selesai.

Peluang bisnis toko bangunan yang benar-benar menghasilkan

Ada banyak alasan kenapa bisnis ini menjadi salah satu yang direkomendasikan. Tak hanya di kota, peluangnya juga terbuka lebar di pedesaan.

Peluang Usaha Toko Bangunan

Di bawah ini adalah beberapa hal yang membuat bisnis ini menarik sehingga layak untuk Anda pertimbangkan sebagai salah satu pilihan usaha:

  1. Barang yang dijual adalah kebutuhan pokok untuk membangun rumah. Sebuah kebutuhan yang sangat diperlukan oleh setiap individu. Apalagi yang sudah berumah tangga. Artinya, pangsa pasarnya sangat luas.
  2. Makin majunya pembangunan, baik di desa maupun di kota. Hal ini ditandai dengan ekspansi perumahan secara masal. Area-area yang dulunya adalah lahan persawahan atau ladang, kini sudah menjadi tempat tinggal atau pemukiman baru.
  3. Laba yang didapatkan dalam bisnis ini sangat besar.
  4. Karena modalnya besar, persaingan usaha ini tak terlalu banyak. Sebab tidak banyak orang yang mampu membuka usahanya.
  5. Barang-barang yang dijual tidak mengalami penyusutan.
  6. Tak ada batas kadaluwarsa pada barang yang dijual.

Dari ulasan di atas kita tahu bahwa barang yang dijual dalam usaha ini memang tidak dibutuhkan setiap hari layaknya bisnis sayuran. Meski begitu, peluangnya jadi besar karena kebutuhan untuk membangun dan merenovasi rumah terus mengalir.

Risiko dan kelemahan usaha toko bangunan

Sebagai pebisnis, Anda tidak boleh hanya fokus pada peluangnya saja. Sebab setiap usaha pasti punya tantangan dan kelemahan yang harus dicari solusinya.

Berikut ini beberapa kelemahan atau tantangan yang harus dihadapi saat seseorang menjalankan bisnis toko bangunan:

  1. Modalnya sangat besar, minimal ratusan juta.
  2. Harus dibuka di area yang strategis, bila tidak maka efeknya bisa buruk ke depan.
  3. Ada masa sepi di bulan-bulan tertentu. Apabila tidak dikelola dengan baik bisa berdampak buruk untuk keberlanjutan bisnisnya.

Itulah beberapa resiko atau kelemahan yang harus Anda lalui bila masuk ke bisnis ini. Solusinya bisa langsung disimak di bawah ini.

Strategi menjalankan usaha toko bangunan agar laris dan tidak sepi

Strategi menjalankan usaha toko bangunan

 

Untuk mengatasi kelemahan di atas dan memaksimalkan peluangnya, yang bisa dilakukan adalah:

Cara mencari lokasi strategis

Hal pertama yang harus disiapkan adalah lokasi. Anda harus memastikan bahwa lokasinya sangat strategis dengan ketentuan berikut ini:

  1. Berada di pinggir jalan raya.
  2. Dekat dengan pemukiman warga yang sedang banyak membangun rumah.
  3. Tempat lalu lalangnya orang-orang.
  4. Siapkan lahan yang cukup luas karena produk toko bangunan membutuhkan gudang yang besar. Contohnya besi, batu bata, kayu, triplek, dll. Semuanya butuh dimensi ruangan yang besar.

Lokasi di atas harus disiapkan khususnya bila Anda baru memulai usahanya.

Kerjasama usaha bahan bangunan dan solusi modal

Sebagaimana dijelaskan di atas, salah satu kendala utama dalam pembukaan bisnis ini adalah modal yang besar. Untuk menanggulanginya, ada setidaknya dua hal yang bisa dilakukan, yakni:

  1. Patungan modal dengan teman atau orang lain dengan sistem partnership.
  2. Kerjasama dengan toko lain untuk mengirimkan bahan saat Anda kehabisan stok. Kerja sama ini sifatnya saling menguntungkan.

Selain dua hal di atas, ada hal lain yang bisa dilakukan, yakni meminjam uang di bank. Sayangnya, cara ini butuh pengajuan terlebih dulu. Diterima atau tidaknya juga tergantung dari bank yang melakukan survei ke tempat Anda.

Di samping itu, perbankan biasanya memiliki syarat khusus agar pengajuan pinjaman dana usaha dapat disetujui. Salah satu syaratnya adalah bisnis tersebut sudah berjalan selama lebih dari 2 tahun.

Artinya, jika Anda baru membuka mau membuka usahanya, maka tidak bisa disetujui. Kecuali Anda punya bisnis lain yang sudah berjalan lama untuk disurvei.

Mencari supplier toko bangunan terbaik

Setelah modal terkumpul, kini tiba waktunya Anda mencari supplier atau pemasok bahan bangunan ke toko Anda.

Cobalah datang ke grosir bahan bangunan. Mulailah dari bahan-bahan pokok pembuatan rumah. Misalnya semen, batu, cat, paku, pasir, triplek, kayu, dll. Pastikan Anda mengerti kebutuhan pokok yang pasti laku dari usaha toko bangunan ini.

Agar bisa berjalan lancar ke depannya, carilah supplier yang menyediakan bahan berkualitas baik, komunikasinya lancar, dan responsnya cepat.

Membuat checklist daftar barang toko bangunan

Ada banyak sekali item yang perlu disiapkan dalam usaha ini. Mulai dari barang-barang besar, hingga printilan kecil.

Untuk membuat semuanya lengkap, Anda perlu membuat checklist produk-produk atau bahan yang mau dijual.

Mulailah dari yang fast move berukuran besar seperti semen, pasir, keramik, dll. Kemudian dilanjutkan dengan yang agak lama lakunya seperti kran, pipa-pipa kecil, sekrup, baut, dll.

Melakukan promosi

Pada saat awal pembukaan, Anda harus melakukan promosi. Caranya adalah dengan mengadakan launching atau soft opening dengan mengundang warga-warga sekitar.

Promosi di awal pembukaan ini penting sekali agar orang-orang sekitar aware bahwa ada usaha toko bangunan baru sebagai tempat untuk membeli barang keperluan mereka.

Agar makin dilirik, Anda juga bisa memberikan diskon khusus pembukaan toko untuk para warga yang datang.

Ikut proyek

Cara yang cukup banyak mendatangkan keuntungan adalah dengan mengikuti proyek. Kalau yang ini, Anda butuh bekerja sama dengan pemerintah setempat atau minimal perwakilannya.

Dibutuhkan koneksi yang cukup kuat untuk mengikuti proyek-proyek semacam ini. Jadi, pastikan Anda membuat jaringan atau melebarkan network saat memang terjun ke bisnis ini.

Analisa usaha toko bangunan: modal, keuntungan, dan BEP-nya

Analisa usaha toko bangunan

Berikut ini adalah analisa bisnis bahan bangunan secara umum:

Rincian modal usaha toko bangunan

Berikut ini beberapa item yang perlu disiapkan modalnya:

  • Mobil pick up untuk transportasi (pengantaran) Rp 100.000.000,-.
  • Bahan bangunan yang akan dijual seperti semen, pasir, cat, batu bata, paku, kayu, triplek, besi, dll seharga Rp 200.000.000,-.
  • Etalase Rp 2.000.000,-
  • Lemari kayu Rp 2.000.000,-.

Biaya bulanan:

  • Gaji karyawan 3 orang @ Rp 2.500.000,- = Rp 7.500.000,-.
  • Listrik dan air Rp 500.000,-.
  • Sewa tempat Rp 20.000.000,- per tahun atau Rp 1.670.000,- per bulan.

Secara total, modal awal yang dibutuhkan adalah Rp 304.000.000,- dengan biaya bulanan Rp 9.670.000,-.

Pendapatan dan keuntungan bisnis bahan bangunan

Masing-masing item yang dijual di toko bangunan memiliki laba berbeda. Anda harus benar-benar cek harga pasar agar tidak kalah saing.

Pada perhitungan ini, dimisalkan profit margin rata-rata untuk pembelian sehari-hari adalah 10-30%, maka apabila perputaran bulanan barangnya adalah Rp 200.000.000,-. Keuntungan yang didapatkan adalah:

Rp 200.000.000,- x 20 % (rata-rata dari 20 dan 30%) = Rp 40.000.000,-.

Artinya, dalam sebulan, keuntungan yang didapatkan adalah Rp 40.000.000,-.

Laba bersihnya adalah Rp 40.000.000,- – Rp 9.670.000,- = Rp 30.330.000,-.

Angka ini sebenarnya sudah cukup besar. Belum lagi jika sudah ada proyek seperti pembuatan perumahan warga miskin, dll. Tentu akan jauh lebih besar karena profitnya bisa sampai 70%.

BEP

Dengan nominal keuangan bulanan seperti tertulis di atas, Anda bisa mengembalikan modal dalam kurun waktu yang cepat. Hanya sekitar 10 bulan saja.

Perhitungan analisa usaha toko bangunan di atas hanya sekedar gambaran. Pada kenyataannya, Anda bisa mendapatkan lebih atau kurang tergantung skala usaha dan modal yang dimiliki.