Bandara Rajapaksa, Bandara Tersepi di Dunia

3311
Bandar Udara Mattala Rajapaksa.

Kalau ada lomba bandara paling sepi di dunia, mungkin Bandar Udara Mattala Rajapaksa International Airport (HRI) di Srilanka akan jadi juaranya. Bandara yang berlokasi di distrik Hambatonta, 250 km di selatan Kolombo ini memiliki satu terminal seluas 12.000m2 dengan 12 counter untuk melakukan check-in, dua gerbang, satu runway yang bisa didarati pesawat sekelas Boeing 747, dan diproyeksikan dapat menampung arus penumpang sebanyak satu juta jiwa setiap tahunnya.

Namun apa daya. Bandara yang dibangun dengan mengedepankan konsep etnik-modern ini nyatanya sepi pengunjung. Pemerintahan Presiden Rajapaksa, yang naik ke tampuk pemerintahan dan bertahan di jabatannya karena keberhasilannya menumpas kelompok pemberontak LTTE (Tamil Eelam), membangun bandara Mattala Rajapaksa di wilayah Hambatonta yang divisikan akan menjadi satu kota modern menggantikan Kolombo.

Hambatonta dibangun dari nol, dilengkapi fasilitas kepelabuhan samudera Magampura Mahinda Rajapaksa, terminal peti kemas, dan zona industri sebagai bagian dari rencana menjadikan Sri Lanka sebagai salah satu hub yang memanfaatkan rencana besar Tiongkok membangun jalur sutra maritim.

Sejak beroperasi pada Maret 2013 yang ditandai dengan mendaratnya pesawat Airbus A340 Kepresidenan Sri Lanka, Bandara Mattala Rajapaksa terus menunjukkan penurunan aktivitas. Pada masa puncak yaitu di awal pengoperasian bandara, ada tujuh penerbangan internasional yang beroperasi, plus dua penerbangan komuter menuju Kolombo.

Rute internasional ke Bangkok, Beijing, Chennai, Jeddah, Riyadh, Shanghai dan Sharjah dilayani oleh SriLankan Airlines yang ‘diarahkan’ pemerintah melayani penerbangan dengan transit di Mattala Rajapaksa, itupun hampir tidak ada penumpang yang naik dari sana.

Pada 2014, secara total ada 3.000 penerbangan atau 8 penerbangan per hari, tetapi jumlah penumpang yang diangkut dari Hambatonta hanya 21.000 orang, atau hanya 57 penumpang per hari. Bandingkan dengan Bandara Blimbingsari di Banyuwangi yang masuk kategori Bandara kelas III, dengan jumlah penumpang 110.234 orang tahun 2015, dan diperkirakan melewati target 120.000 penumpang pada 2016. Padahal trafik di Banyuwangi baru dilayani pesawat sekelas ATR-72. Jelas Bandara Mattala Rajapaksa sangat jauh dari status internasionalnya.

Dengan sepinya penumpang, jelas bandara tidak bisa memperoleh fee dari biaya handling pesawat, kargo, maupun PSC (Passenger Service Charge). Dampaknya langsung terasa, Mattala Rajapaksa menderita kerugian hampir 18 juta dolar AS setahunnya. Staf bandara pun terpaksa dikurangi, dan bandara yang sepi mengundang masuknya hewan liar ke bandara,  sesuatu yang tak terhindarkan mengingat bandara ini dibangun di tengah-tengah hutan.

Sebagian terminal kargo pun akhirnya dijadikan penyimpanan bahan pangan. Sebenarnya lokasi Mattala Rajapaksa ideal untuk dijadikan sebagai hub pariwisata, tetapi minimnya informasi dan transportasi dari dan ke bandara membuat sulitnya interkoneksi yang penting bagi agen perjalanan untuk menjamin kenyamanan para turis.

Sepinya bandara menyebabkan Srilanka kesulitan membayar utang-utang pembangunan infrastrukturnya ke Tiongkok yang menjadi pemodal utama. Kalau ada pihak yang disalahkan, ya mantan Presiden Rajapaksa lah yang bertanggungjawab. Sang Presiden, yang kalah dalam Pemilu 2015, dianggap sewenang-wenang dalam menentukan lokasi proyek prestisius Srilanka tersebut.

Lokasi Hambatonta diketahui merupakan wilayah kampung halaman Rajapaksa. Andaikan dibangun lebih dekat dengan Kolombo misalnya, bisa jadi bandara baru ini akan sangat sukses dalam menarik trafik pesawat udara dari berbagai negara.

Pemerintah Srilanka diketahui sedang melakukan renegosiasi dengan pemerintah Tiongkok untuk mengatasi utangnya yang menggunung, salah satunya dengan menukar utang dengan saham kepemilikan di megaproyek yang terlanjur dibangun. Sejauh ini Pemerintah Tiongkok masih menolak, dan tinggallah Bandara Mattala Rajapaksa sebagai saksi kegagalan ambisi proyek infrastruktur pemerintah.

Author: Aryo Nugroho