Get Adobe Flash player

English Section

Detik-detik Yakhont Memburu Sasaran

 

 

      Latihan Puncak TNI AL Armada Jaya XXXI/2012 sudah hampir sebulan berlalu. Tetapi, kenangan akan detik-detik penembakan rudal Yakhont belum juga surut. Lambung kapal eks LST Teluk Berau yang ditempatkan di balik cakrawala sejauh 182 km sebagai sasaran, berhasil diendus dan dijebol dalam menit kelima. Dan, pada menit kedelapan kapal ini sudah tenggelam. Tenggelamnya Teluk Berau agak diluar dugaan pimpinan TNI AL karena menurut spesifikasinya, rudal buatan Rusia ini hanya “sekadar” melubangi lambung untuk melumpuhkan operasinya. Untuk menenggelamkannya, kapal perang dan kapal selam TNI AL sudah siap menembakkan Exocet MM-40 block II dan Torpedo SUT.
        Kegalakan rudal ini serta-merta membuat gembira KSAL Laksamana TNI Soeparno dan jajaran pimpinan TNI AL, termasuk dua anggota Komisi I DPR yang ikut menyaksikan penembakan rudal ini dari geladak kapal markas KRI Surabaya 592. Selain oleh karena kegalakannya, kegembiraan juga meletup oleh karena dalam uji penembakan sebelumnya di sebuah tempat di Samudera Hindia, rudal ini gagal mengunci sasarannya. Rudal kemudian hilang dan tenggelam entah dimana. Operator Rusia yang diperbantukan mengoperasikan rudal ini dari ruang operasi KRI Oswald Siahaan 354 pulang tanpa membuat evaluasi apa pun. Sejak itu perwira senjata TNI AL berusaha untuk “menundukkan” rudal ini tanpa bantuan pihak Rusia.
         Lintasan rudal ini cukup menarik untuk diperhatikan karena berbeda dengan rudal-rudal lain yang biasanya langsung melesat lurus atau balistik menuju sasaran. Angkasa/Commando  yang mengabadikan detik-detik penembakan Yakhont dari KRI Surabaya, menyaksikan rudal unik lebih dulu meluncur tegak lurus ke atas dengan kecepatan rendah dengan asap yang tebal. Setelah mencapai ketinggian kira-kira 120 meter, rudal sesaat melambat, melepas roket pendorong tingkat pertamanya, lalu segera melesat dengan kecepatan supersonik dengan mesin pendorong utamanya. Mesin pendorong utamanya berasal dari jenis ramjet, yang hanya akan berhenti jika menghantam sasaran atau kehabisan bahan bakar.
         Jika dikendalikan secara benar, dia akan menurunkan ketinggian dan mengunci sasaran dari jarak 40 km terakhir. Pada saat itu pula radarnya akan menyapu secara aktif 12 mil ke kanan dan 12 mil ke kiri dari titik sasaran yang sudah di-install di kepalanya. Jejaknya sulit dilacak radar kapal sasaran karena hanya melayang di ketinggian beberapa meter saja di atas permukaan laut. Menurut spek-nya, rudal ini sanggup menghantam sasaran sejauh maksimal 300 km yang bisa ditempuh hanya dalam enam menit. Yakhont adalah rudal P-800 Oniks versi ekspor buatan NPO Mashinostroyeniya. Atas keberhasilan ini dua anggota Komisi I DPR yang ikut menyaksikan penembakan ini akan mendorong pimpinan DPR untuk menyetujui keinginan TNI AL untuk membeli atau menambah jumlah rudal ini. Sejauh ini, di dunia baru Rusia, Vietnam, Suriah dan Indonesia yang memilikinya. India ikut memproduksinya, namun telah mengubah namanya menjadi BrahMos
        Dari periskop kapal selam KRI Cakra, perwira TNI AL mengabadikan tiga menit kelabu yang dialami eks LST Teluk Berau. Pertama, terjadi ledakan di tengah kepal tak lama setelah rudal itu menghantam. Berikutnya, haluan kapal mendongak ke atas karena buritan terisi air. Beberapa saat kemudian kapal kemudian tenggelam tegak lurus. “Keberhasilan ini akan jadi catatan berharga. Kini, kami punya data baringan, jarak dan kondisi, ketika rudal itu tepat mengenai sasaran. Ini bukan lagi soal kecanggihan rudal, tetapi kemampuan menembakkannya. Dan, ini tentu akan menjadi deteren yang amat tinggi bagi kekuatan militer Indonesia,” ujar Dansatlinlamil, Kolonel Laut (P) Tri Satriya Wijaya, salah seorang Wasdal Armada Jaya XXXI/2012 kepada Angkasa/Commando. (adrianus darmawan, baca laporan lengkapnya di Commando eds November 2012)

Share