Lukisan di Badan Pesawat, Antara Seni dan Taktik Persaingan Bisnis

13727
Sumber gambar: Kenjet/flickr

Lukisan ternyata tidak cuma bagus ditumpahkan di atas media kanvas ataupun kertas. Badan pesawat pun sejak puluhan tahun lalu sudah mulai menjadi media lukis alternatif. Gambarnya macam-macam, mulai dari tokoh film kartun, pemandangan, binatang, hingga bentuk abstrak dengan komposisi warna yang menarik.

Memang tidak ada istilah yang pas untuk lukisan di badan pesawat. Namun sebagai patokan, bisa saja kita gunakan buku Dream Schemes terbitan Airlife yang ditulis oleh  Stuart Spicer. Ia memberi nama lukisan tersebut adalah Exotic Airliner Art.

Lukisan di badan pesawat ini biasanya masih aktif beroperasi. Maskapai penerbangan melakukannya bukan tanpa alasan. Harapannya, dengan berani tampil beda, mereka berharap para calon penumpang akan tertarik untuk menggunakan jasa penerbangan mereka.

Sumber gambar: george lau
Sumber gambar: george lau

Rupanya taktik itu berhasil. Contohnya apa yang dilakukan oleh JAL dan ANA. Dua maskapai penerbangan asal Jepang itu membuat lukisan di badan pesawat mereka dengan figur-figur kartun di film Disney dan Pokemon. Bahkan tahun ini ANA Airlines juga sempat merilis livery bertema Star Wars.

A photo posted by Paco Abrigo (@drblaque) on

Tidak cuma di badan pesawat, pihak maskapai bahkan membuat Boarding Pass, kertas sandaran kepala, hingga kantung mabuk dengan tema Star Wars.

Ada pula pesawat yang dilukisi untuk memperingati atau merayakan suatu kejadian yang menarik. Ketika ada kejuaran dunia sepak bola misalnya, tidak sedikit  pesawat komersial negara-negara peserta yang diberi lukisan atau yel-yel yang berkaitan dengan penyelengaraan peristiwa tersebut.

Sumber gambar: underconsiderration
Sumber gambar: underconsiderration

Lukisan di badan pesawat juga digunakan untuk promosi pariwisata suatu negara. Qantas misalnya, melukisi sekujur badan pesawatnya dengan motif-motif dari suku Aborigin. Lukisan yang khas ini diberi nama Wunula Dreaming, Yananyi Dreaming, Nalanji Dreamin,  dan Mendoowoorrji.

Lain lagi dengan British Airways, yang melukis ekor pesawatnya dengan motif geometris warna-warni, yang mereka sebut tail-fin art. Masing-masing motif diberi nama Blomsterang, Delftblue Daybreak, Koguty Lowickie, Patani, Ndebele, dan masih banyak lainnya. Penamaan lukisan-lukisan itu terkesan unik karena motifnya diambil dari motif khas yang namanya menggunakan bahasa lokal.

Kreativitas memang tanpa batas, apalagi jika didukung dengan teknologi, sehingga hasilnya pun luar biasa. Hal ini terlihat pada armada Frontier Airlines, yang menampilkan foto-foto binatang khas Amerika di bagian ekor pesawat, seperti rakun, kambing gunung, elang botak, dan beruang. Dapat dipastikan, tanpa dukungan teknologi yang canggih, sulit mewujudkannya.

Di Indonesia memang belum umum menampilkan lukisan di badan pesawat. Paling-paling baru pada pesawat  Boeing 737-800NG Garuda yang menampilkan brand image tahun 1969-1985. Atau AirAsia yang tahun lalu melukis salah satu livery mereka dengan kampanye Turn Back Crime yang digalakkan Polri.

Author: Remigius Septian & Harzan DJ