Utarom Kaimana, Bandara Eks Jepang Yang Menolak Kalah

2517
Apron dan terminal bandara Utarom serta salah satu pesawat yang terbang di bandara tersebut. Foto-foto: dok UPBU Utarom

Bandara Utarom yang terletak di Kaimana, Papua Barat usianya sudah lebih tua dari usia Republik ini.  Namun hingga sekarang, keadaanya masih belum memadai. Namun begitu, pengelola bandara dari Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Ditjen Perhubungan Udara menolak untuk kalah. Pembenahan terus dilakukan hingga sekarang mempunyai gedung terminal yang megah.

            Eks Jepang

Kaimana, kota kabupaten di Papua Barat ini sejak dulu menjadi rebutan penjajah. Pantainya yang indah dangan teluk yang tenang serta lokasinya yang strategis membuat Belanda, Jepang dan Sekutu mengincarnya untuk menjadi salah satu landasan acu untuk menguasai daerah di Pasifik hingga Australia.

 

Papan nama yang menampilkan kata Kaimana sebagai kota senja yang indah.
Papan nama yang menampilkan kata Kaimana sebagai kota senja yang indah.

Adalah Jepang yang mulai merintis pembangunan bandar udara di daerah ini pada tahun 1942. Bala tentara Jepang merintis pembangunan bandara untuk kepentingan perang Asia Timur Raya. Saat itu Jepang sudah siap ekspansi ke Pasifik Selatan, Papua Nugini dan Australia.

Untuk pembangunan bandara ini, Jepang mendatangkan romusha dari pulau Jawa dan dari daerah sekitar Kaimana sendiri. Demi mempercepat pembangunan, berbagai paksaan, tekanan, pukulan, ancaman dan pembunuhan dilakukan oleh tentara Jepang terhadap para pekerja paksa tersebut. Tanah berawa ditimbuni, kayu ditebangi dan diangkut semua hanya mengandalkan tenaga manusia.

Orang-orang dari Jawa diawasi langsung oleh tentara Jepang. Sedangkan orang Papua/ Kaimana yang bekerja diawasi langsung oleh raja mereka yaitu Raja Kumisi IV Achmad Aiturauw. Sang Raja turun tangan mengawasi sendiri rakyatnya setelah melihat para tentara Jepang menyiksa pekerja-pekerja itu. Di bawah pengawasan sang Raja, pekerja rodi asal Papua tersebut memperoleh perlakuan yang lebih baik. Jepang juga menaruh hormat kepada Raja sehingga beberapa tuntutan diterima seperti penyediaan makanan dan tidak diawasi oleh tentara Jepang.

Jumlah  romusha asal tanah Jawa yang kurang lebih 600 orang sampai akhir pembangunan bandara tersebut tertinggal 60 orang saja.

Enam bulan kemudian tepatnya bulan Juni 1943 bandara tersebut sudah bisa  didarati pesawat-pesawat tempur Jepang. Bandara dinamai Utarom oleh Raja Kumisi IV Achmad Aiturauw. Utarom artinya adalah Harapan atau Keyakinan akan Kemerdekaan sesuai dengan legenda yang hidup dalam cerita rakyat Kaimana.

Akan tetapi hanya sebentar kemudian akhirnya Jepang menyerah setelah bandara dibom dan ditembaki oleh pesawat-pesawat Sekutu. Jepang akhirnya menyerah total pada tahun 1945.

Pada tahun 1946 Belanda kembali memasuki Kaimana dan mendapatkan bandara tersebut dalam kondisi rusak akibat pengeboman Sekutu. Bandara  kemudian direhabilitasi dan mulai mendaratlah pesawat-pesawat Sekutu. Tahun 1949 diadakanlah Round Table Conference (KMB) di Denhaag. Tanah Papua menjadi sengketa dan Belanda masih ingin menjajah sebagian tanah di Indonesia.

Tahun 1950 Belanda mulai mengadakan pembangunan bandara secara besar-besaran. Dan Bandara Kaimana dijadikan pangkalan Udara dan pangkalan Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Tahun 1960, saat Trikora dikumandangkan Presiden RI Sukarno, pesawat-pesawat jet Belanda mulai disiagakan di pangkalan tersebut. Pelabuhan laut Kaimana dipenuhi kapal-kapal perang Belanda. Tetapi pada tahun 1963 akhirnya Belanda harus mengakui kedaulatan tanah Papua sebagai bagian dari tanah Pertiwi Indonesia.

Periode tahun 1964-1970 Bandara Utarom merupakan satu-satunya bandara yang ada di Kabupaten Fakfak dan paling representatif di samping lapangan rumput di Kokonao dan Akimuga. Saat itu bandara Kaimana sudah didarati pesawat jenis Hercules 130, DC-3, Dornier, Pilatus Porter dan Twin Otter (DHC-6).

Pada tahun 1971-1990 Bandara ini dijadikan bandara Perintis. Tahun 1991 Perusahaan Pertamina dan Mobil Oil menjadikan bandara sebagai home base untuk menjalankan operasional perusahaan. Bersama Pemerintah, perusahaan tersebut cukup memberikan perubahan yang signifikan terhadap pengembangan bandara ini. Dan saat itu Bandara Utarom Kaimana sudah bisa didarati pesawat jenis Fokker F-28.

          Menolak kalah

Saat ini Bandara Utarom berada dalam penguasaan  Unit Penyelenggara Bandar Udara  (UPBU) Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Bandara Utarom Kaimana merupakan Bandar udara kelas III yang berada di Propinsi Papua Barat.

Dari pandangan mata sekilas, Bandara Utarom sudah terlihat bagus dengan terminal baru yang megah. Bandara memiliki panjang landasan 2.000 meter dengan lebar 30 meter. Saat ini Bandara Utarom mampu didarati pesawat jenis ATR 72-600. “Terkadang bila ada momen-momen tertentu terkait dengan kegiatan Pemerintah Daerah, bandar udara Utarom bisa didarati pesawat jenis Hercules milik TNI,” ujar Kepala UPBU Bandara Utarom, Yayat Suyatman.

 

Terminal baru yang tampak megah
Terminal baru yang tampak megah

Menurut Yayat, keberadaan bandara Utarom Kaimana  serta penerbangan dari dan ke Kaimana sangatlah dibutuhkan.  Terbukti dengan meningkatnya jumlah penumpang dan bertambahnya jumlah rute yang dibuka oleh salah satu maskapai penerbangan. Pada tahun 2016 lalu, setiap harinya rata-rata  terdapat  6 kali pergerakan (take off dan landing) di bandara ini. Jumlah penumpang pada tahun 2016 mencapai 21.952 penumpang datang dan 21.596 penumpang berangkat.

Animo masyarakat yang datang maupun yang berangkat dari Kaimana sangatlah tinggi. Salah satu rute yang sangat diminati calon penumpang adalah route Kaimana – Ambon ataupun sebaliknya.

“Banyak calon penumpang yang mengeluh mengapa route tersebut hanya dilayani oleh satu maskapai saja. Kami sebagai penyelenggara bandara sudah mencoba berkoordinasi dan sudah bertemu secara langsung dengan pihak maskapai tersebut. Pada prinsipnya maskapai tersebut bersedia untuk beroperasi dari dan ke Kaimana,” lanjut Yayat.

Namun demikian, ada beberapa kendala teknis dan non teknis. Maskapai pertama dengan tipe pesawat ATR 72-600 mengalami kendala non teknis. Yaitu belum selesainya proses ikatan kerjasama (MOU) antara maskapai dengan pemerintah daerah. Karena pemerintah daerah menawarkan nilai subsidi kepada maskapai dimaksud.

Sedangkan maskapai kedua dengan tipe pesawat Boeing B737-500 mengalami kendala teknis. Yaitu terkendala dengan kekuatan daya dukung landasan pacu yang belum memadai. Berdasarkan perhitungan Direktorat Bandar Udara Ditjen Perhubungan Udara, saat ini landasan pacu Bandara Utarom memiliki perkerasaan (PCN) 25. Sedangkan yang dibutuhkan untuk pesawat jenis B737- 500 minimal PCN 35.

 

Perlengkapan peralatan X-ray untuk keamanan penerbangan
Perlengkapan peralatan X-ray untuk keamanan penerbangan

Yayat menyadari bahwa kondisi Bandara Utarom dari sisi sarana, prasarana dan personel yang ada saat ini jauh dari kata memadai. Tapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat pihak penyelenggara bandara untuk berbenah dan menata keberadaan bandara ini. Baik  itu terkait fasilitas yang ada maupun membina personel dengan peningkatan kompetensi  yang harus dan wajib dimiliki.

Yayat dan personil Bandara Utarom menolak untuk kalah dengan segala perlengkapan yang belum memadai tersebut. “Bandar udara Utarom ke depannya siap menjalankan amanah berdasarkan regulasi yang ada. Sehingga makna dari 3S+1C (safety, security, services and compliance) dapat kami penuhi,” ujar Yayat mantap.

Pada tahun 2016 lalu, realisasi keuangan atau daya serap keuangan di bandara Utarom mencapai 97,62 % dari pagu anggaran yang ditetapkan. Yaitu meliputi belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal.

Pagu anggaran tahun 2017 teralokasi sebesar Rp.44.754.414.000,- yang meliputi belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal. Belanja modal diantaranya  untuk perbaikan fasilitas sisi udara meliputi perbaikan kondisi landasan pacu dan pembenahan fasilitas gedung terminal.    Untuk program tahun anggaran 2018, diusulkan beberapa kegiatan belanja modal yang sifatnya prioritas. Di antaranya peningkatan, pengembangan fasilitas sisi udara. Yaitu pelapisan landasan pacu secara menyeluruh serta meningkatkan daya dukung (PCN) dengan harapan bisa didarati pesawat yang lebih besar.

Juga membenahi fasilitas pendukung keselamatan penerbangan yaitu dengan memperluas gedung PKP-PK yang saat ini dianggap tidak layak serta tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Memenuhi kebutuhan air bersih serta membenahi jaringan air yang tidak tertata dengan baik. Dan pembuatan fasilitas lainnya yang dianggap sangat dibutuhkan dalam menunjang operasional bandara. Pihak penyelenggara bandara sangat berharap apa yang diusulkan itu dapat terakomodir pada tahun anggaran 2018 nanti.

Author: Gatot R