Selamat dari Pembantaian Belanda Karena Kalung Rosario dan Alkitab

2919
Godipun (berbatik ungu) saat berkumpul bersama rekan-rekan veteran. Sumber gambar: Wiro

“Anak-anak, jangan lupa Sumpah Prajurit dan Sapta Marga”. Ucapan singkat dan padat dari Mayjen TNI Soeharto saat memberikan briefing, masih diingat oleh Serma (Pur) G. Godipun.

Pria asal Maumere itu mengucapkannya dengan lancar, seperti baru mendengarnya kemaren sore, meski suaranya sangat halus.

Sesuai surat yang ditandatangani oleh Panglima Mandala No 01/PO/SR/4/1962 tanggal 11 April 1962, telah dikeluarkan Perintah Operasi penerjunan terhadap PGT dan RPKAD. Kedua pasukan akan digabungkan di bawah satu komando untuk penerjunan  pada 26 April di sebuah dropping zone di wilayah Fak-Fak dan Kaimana. Penerjunan (airborne operations) ini merupakan infiltrasi udara pertama yang akan dilakukan tentara Indonesia di wilayah Irian Barat.

Operasi Banten Ketaton dilaksanakan menggunakan enam pesawat Dakota, pada tanggal 26 April. sebuah pembom B-25 Mitchel dan dua pemburu P-51 Mustang  juga ikut serta sebagai pengawal (air cover). Penerbangan ini dilakukan untuk memantau keamanan jalur penerbangan sekaligus penipuan (deception flight).

Penerjunan di Kaimana yang pertama terdiri dari tiga pesawat Dakota yang masing-masing diterbangkan oleh Kapten Udara Santoso dan kopilot LU II Siboen, LU I Suhardjo dengan LU II M Diran, dan LU I Nurman Munaf dengan LU I Suwarta. Operasi ini menerjunkan satu tim gabungan PGT dan RPKAD (23 RPKAD, 9 PGT, dan satu perwira Zeni) di bawah pimpinan Letda Heru Sisnodo dan Letda Zipur Moertedjo sebagai pimpinan penghancur radar di Kaimana.

Setelah istirahat satu malam di Langgur, keesokan harinya 26 April 1962 pukul 04.45 waktu setempat, tiga Dakota lepas landas menuju sasaran di daerah Kaimana dengan terbang rendah dalam keadaan hujan. Tak lama setelah berada tepat di atas sasaran, pertama-tama yang diterjunkan adalah logistik baru kemudian satu per satu pasukan keluar dari pintu Dakota dan mendarat di Kampung Urere.

Penerjunan ini menemui kesulitan karena dilihat dari atas awan daerah sasaran tampak seperti daratan yang rata, sehingga sulit menentukan titik pendaratan. Oleh karena itu diperlukan waktu dua hari untuk konsolidasi dan alat komunikasi (radio) rusak pada waktu penerjunan. Dalam penerjunan ini dua anggota mengalami cedera patah kaki dan radio rusak, sehingga tidak dapat digunakan.

Hampir semuanya mendarat di puncak-puncak pohon yang tingginya bisa mencapai 50 m. Itupun masih ditambah dengan lokasi mereka yang terpencar, sehingga menyulitkan untuk berkoordinasi. Situasi ini sedikit menguntungkan bagi yang membawa beban ekstra berat, seperti pembawa radio (radio man). Karena jika langsung mendarat di tanah, kemungkinan cedera sangat tinggi.

Siang itu Belanda mulai mencium kehadiran pasukan gabungan ini. Gara-garanya setelah pesawat Belanda yang melintas, pilotnya melihat parasut bertaburan di puncak-puncak pohon. Karena itu Belanda pun mengirim sejumlah polisi yang umumnya direkrut dari putra asli Irian untuk mengecek kebenarannya. Untunglah ada penduduk berbaik hati yang mengabarkan bahwa ada polisi datang. Mereka pun pergi meninggalkan kampung itu

Pada hari ketiga setelah bertemu dengan teman-teman yang lain yaitu Sahudi, KU I Fortianus, KU I Dompas, KU II Jhon Saleky, KU II Aipassa, dan tiga orang lagi yang namanya tidak diketahui.

Dua orang yang mengalami patah kaki, terpaksa dititipkan kepada penduduk yang mempunyai rumah di sekitar dropping zone. Keluarga ini awalnya menerima dan bersikap baik, namun ternyata mereka sudah dibina oleh Belanda. Sehingga kedua anggota yang patah kaki tadi diserahkan kepada Belanda.

Pada suatu hari, Godipun disuruh menebang pohon pisang yang agak jauh dari induk pasukan. Begitu kembali, ia sudah tidak menemukan rekan-rekannya, pergi entah kemana. Dia berusaha menyusul untuk mencari teman-temannya. Sial baginya, di perjalanan ia disergap tentara Belanda.

“Angkat tangan, lempar bersenjata!” Salah seorang berteriak ke arahnya.

Godipun langsung tiarap dan merayap menjauh. Karena tidak kunjung keluar, tembakan gencar pun diarahkan ke persembunyiannya. “Saya betul-betul disiram,” kenang Godipun. Sebuah timah panas akhirnya mendarat di pundaknya. Sakit sekali, sampai-sampai rasanya mau nangis. Pundak kirinya hancur dan tulang belikatnya mencelat keluar.

Dia bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Entah ilmu apa yang dimiliki Godipun, Belanda tidak berhasil menemukannya sampai akhirnya pergi meninggalkan lokasi. Tak lama kemudian, Godipun berusaha keluar. Sambil menahan sakit, Godipun terus berjalan sampai akhirnya menemukan teman-temannya. Ia lalu mendapat pengobatan dari orang kesehatan RPKAD, Komaruddin.

Akhirnya, Godipun tertangkap pada tanggal 7 Juni. Saat tertangkap, ia dalam pelarian seorang diri setelah kelompoknya terpecah karena diserang Belanda. Tanpa senjata karena disimpan di dalam hutan setelah bahunya tertembak, Godipun berjalan hingga tiba di sebuah pantai di Kampung Sisir. Ia pun lupa membawa bungkusan yang isinya kitab suci dan tertinggal di hutan. Di sini jejaknya tersendus oleh anjing pelacak Belanda, yang anehnya tidak menggonggong.

Dia berusaha nyumput di kerimbunan akar bakau, namun ketahuan juga. Beberapa orang penduduk lokal mengejarnya dari belakang sambil mengacungkan golok dan tombak. Dia mencoba untuk lari, namun dicegah oleh sebuah teriakan keras, Berhentiiiiiiiii!. “Saya balik kanan, saya pikir akan digorok, tapi rupanya mereka tercekat melihat saya.”

Rupanya kalung Rosario yang tersembul dari balik bajunya mengagetkan para pemburunya. “Kamu agama apa?” tanya mereka yang dijawab singkat, “Katolik.”

Yang bertanya malah tidak percaya dan marah sambil berujar, “Bohong kamu, kamu babi Soekarno, bikin rusak tanah saya. Kamu mau hidup atau mau mati.” Akhirnya Godipun dibawa ke sebuah rumah panggung di pinggir pantai itu.

Dia ditanya macam-macam, seperti siapa komandan kamu, di mana dia, di mana teman-teman kamu. Karena memang tersasar, ia tidak bisa memberikan jawaban. Setelah mendapat havermut (sereal dari gandum atau dikenal juga dengan oatmeal), minum, dan sebatang rokok, siang itu ia dibawa ke rumah sakit untuk diobati.

Suatu hari di penjara, ia didatangi seorang pastor Katolik Belanda berjubah putih yang menawarkan sakramen pengakuan dosa. Ia diajak ke ruangan komandan polisi untuk melaksanakan pengakuan dosa.

“Oleh pastor didoakan supaya Belanda dan Indonesia cepat damai dan saya cepat dipulangkan.” Kemudian diketahuinya nama pastor itu Van Manen.

Saat kembali ke kamar tahanan, ia melihat di sebuah meja sebuah bungkusan yang ia sangat kenal. “Saya bilang ini punya saya, puji Tuhan,” ujarnya. Rupanya bungkusan itu berisi kitab Taurat dan Injil.

Setelah di penjara sekian lama, suatu hari mereka dibawa dengan pesawat Dakota ke Biak. Dengan mata ditutup, mereka dituntun ke dalam pesawat yang ternyata di dalamnya sudah banyak wartawan asing.Godipun pun selamat dari maut dan akhirnya kembali ke kesatuannya.

Author: Beny Adrian & Remigius Septian