Parasut Membelit, Empat Peterjun Kopasgat Lolos dari Maut

5169
Ilustrasi formasi serupa. Sumber gambar: cf-russia.ru

Kejuaraan Terjun Payung Asean VI yang digelar di Lanud Atang Senjaya Bogor dari 5-12 November 1983 menjadi kenangan tak terlupakan bagi sejumlah penerjun. Kejuaraan ini diikuti Indonesia, Malaysia, Brunei, Australia, dan internasional.

Mayor (Pas) Nanok Soertano dari Kopasgat mengatur anak buahnya yang akan mengikuti kejuaraan. Di antaranya Isis Gunarto, Sukiswo, Kalengkongan, dan Istamar. Keempatnya akan mengikuti kerjasama di udara empat parasut.

Sebelum boarding ke heli Puma, mereka melakukan simulasi. Bagi Kopasgat, nomor kerjasama di udara ini sangat berat. Bukan karena tidak bisa, namun jenis parasut yang digunakan bukan parasut khusus kerjasama di udara. Sehingga skill peterjun menentukan.

Tidak ada keraguan bagi keempat peterjun Kopasgat. Mereka exit dari ketinggian 8.000 kaki. Hanya sesaat melayang di udara, tak lama kemudian parasut sudah mengembang. Terlihat keempat peterjun mulai memainkan formasi. Ketinggian terus berkurang sehingga mereka harus lebih cepat merampungkan kerjasama.

Akhirnya mereka mampu melaksanakannya sehingga keempat parasut terlihat berdampingan. Pada posisi puncak adalah Isi Gunarto, sisi kiri Sukiswo, sisi kanan Kalengkongan, dan Istamar di bawah sebagai penutup atau slot. Formasi yang mereka buat membentuk berlian (diamond). Formasi sempat bertahan beberapa detik sebelum sebuah kejadian fatal terjadi.

Entah dari mana mulainya, tiba-tiba saja keempat parasut saling membelit satu sama lain. Ketinggian sudah 3.000 kaki. Terlihat jelas dari bawah, keempatnya berusaha melepaskan diri. Gerakan mereka menjadi tidak karuan karena terkadang ada yang terpental, tertarik, atau berputar-putar. Cukup lama keempatnya berjuang melawan maut sementara ketinggian terus berkurang hingga cukup rendah. Hanya tangan Tuhan yang membantu, ketika tiba-tiba ‘tali kusut’ itu lepas dan dengan cepat masing-masing meloloskan diri. Hanya dalam hitungan detik, mereka sudah mendarat. Bisa dibayangkan betapa rendahnya ketinggian saat itu.

Dengan rasa syukur tiada henti, mereka panjatkan doa kepada Tuhan. Karena hampir tidak mungkin lolos dari kejadian maut itu. Mereka tidak menyangka akan selamat. Peristiwa itu menjadi pengalaman berharga bagi keempatnya. Hanya istirahat semalam itu, besoknya keempat peterjun ini sudah kembali diperintahkan terjun oleh Nanok. “Kalau tidak begitu nanti mereka takut terjun,” ujar Nanok seperti ditulis di biografi Nanok Soeratno Kisah Sejati Prajurit Paskhas (2013).

Merasa dekat dengan KSAU Marsekal Rilo Pambudi, pada suatu hari Nanok memberikan masukan kepada Rilo soal karier anak buahnya para peterjun. Nanok membeberkan pengabdian yang telah mereka lakukan serta prestasi yang telah mereka raih. Kepada Rilo, Nanok menyampaikan, apakah bisa mereka diberi kesempatan mengikuti seleksi pendidikan sekolah calon perwira.

Rilo tidak mengomentari panjang lebar permintaan Nanok. Ia paham apa yang disampaikan Nanok dan tahu betapa besar pengorbanan timnya. “Ya sudah, siapa saja nama-namanya, catat,” ujar Rilo. Di pengujung masa pengabdiannya, semua peterjun ini menjadi perwira.

 

 

Author: Beny Adrian