Siege of Jadotville, Nasib Pasukan yang Dilupakan

3886

Bicara soal film perang, akhir-akhir ini mulai bermunculan karya sinema berbau militer berkualitas yang justru ditayangkan langsung di layar kaca (direct to viewer) tanpa sempat mampir ke bioskop.

Jika kanal seperti HBO memiliki konten eksklusif seperti Band of Brothers dan The Pacific, Netflix yang menjadi pemain baru di kancah aplikasi film berlangganan ternyata juga sudah memiliki film aksi menarik yang diproduksi secara inhouse. Salah satu film aksi militer yang menarik adalah The Siege of Jadotville (2016) karya sutradara Richie Smyth yang mengambil kisah nyata pengepungan kontingen pasukan penjaga perdamaian PBB asal Irlandia di Kongo pada 1961.

Alkisah, saat itu Angkatan Bersenjata Irlandia yang masih baru dan tak berpengalaman itu ingin menunjukkan kontribusinya kepada dunia. Salah satu caranya adalah dengan berkontribusi pada pasukan perdamaian PBB yang dikirim untuk menstabilkan Kongo.

Negeri yang pernah dikenal sebagai Zaire tersebut pada dekade 1960an adalah ironi. Negerinya kaya mineral, tetapi sekaligus jadi kutukan. Propinsi Katanga, yang sangat kaya mineral langka, termasuk Uranium, berkontribusi pada jalannya sejarah dengan menjadi sumber bahan baku bom atom yang menyasar Hiroshima dan Nagasaki. Moishe Tshombe dan partai CONAKAT mengumumkan kemerdekaan Katanga dari Kongo, yang didukung penuh oleh para pengusaha Perancis, Inggris, dan Belgia yang ingin mengamankan bisnisnya.

Dengan latar belakang itulah kontingen Irlandia yang dipimpin oleh Commandant Pat Quinlan (Jamie Dornan, Fifty Shades of Grey) dan kompi A yang dipimpinnya ditugaskan ke Katanga. Sang Danki pandai tetapi naif.

Pat Quinlan terlalu banyak berteori dari buku-buku biografi para Jenderal perang yang dibacanya, tetapi anak buahnya sendiri ragu pada kemampuan pemimpinnya yang sangat ingin membuktikan diri itu. Untungnya ada Sersan Jack Prendergast (Jason O’Mara) yang piawai menjembatani sang komandan dengan anak buahnya.

Di Katanga, 156 prajurit Irlandia tersebut disambut dingin oleh para penduduknya yang justru mendukung para pengusaha dan industrialis Eropa untuk memerdekakan diri dari Kongo. Keadaan diperparah dengan keberadaan ribuan tentara bayaran yang dikirim diam-diam oleh rezim Charles de Gaulle yang ingin mempertahankan bisnis Perancis di Kongo. Para tentara bayaran tersebut, yang dipimpin oleh Rene Faulques (Guillaume Canet), dibayar untuk mempertahankan dan mengamankan tambang.

416px-Siege_of_Jadotville

Markas kontingen PBB yang berlokasi di desa Jadotville tersebut sangat jauh dari kata ideal. Tidak ada perkubuan, hanya ada beberapa rumah, gudang, dan kapel. Lokasi itu bahkan dibelah oleh jalan kasar dan dipunggungi bukit sehingga mudah untuk diserang.

Persenjataan dan perlengkapan yang dibawa oleh prajurit juga boleh dibilang jauh dari modern untuk standar Perang Dunia II. Setiap prajurit hanya membawa senapan seperti Lee Enfield, FN FAL, senapan mesin Bren, dan pistol mitraliur Carl Gustav. Tidak ada senjata berat kecuali mortir 60 mm.

Para tentara Irlandia yang diperkirakan tidak akan bertempur ini ternyata masuk dalam pusaran nasib yang tidak dapat mereka tentukan sendiri. PBB, dalam upayanya untuk membuktikan diri bertaji, memutuskan untuk melaksanakan operasi Morthor untuk membebaskan Elizabethville dari pasukan yang setia kepada Tshombe.

Namun perencanaan yang prematur dan kurang matang dari Dr Conor Cruise O’Brien yang diutus khusus oleh Sekjen PBB Dag Hammarsjkold justru berakhir menjadi pembantaian berdarah. Pembantaian itu terjadi di stasiun radio Elizabethville ketika pasukan PBB dari India menggranat dan menembaki loyalis Tshombe yang tak bersenjata dan berlindung di stasiun radio tersebut.

Para industrialis yang mendukung Tshombe pun tidak tinggal diam. Mereka mengutus para tentara bayaran untuk menyerbu Jadotville tepat pada hari Minggu di bulan September dimana sebagian besar prajurit sedang menjalani misa kudus.

Berkat mata yang awas dari Bill Ready (Sam Keeley), kontingen Irlandia ini balik melawan dan bisa memukul balik para tentara bayaran. Para pasukan perdamaian PBB tersebut yang awalnya hijau, dengan cepat beradaptasi dengan kondisi dan menjadi tentara sejati. Dalam sejumlah kontak tembak yang berlangsung berhari-hari, pasukan Irlandia yang kalah jumlah dan amunisi  bisa mengalahkan musuh yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan dengan taktik yang brilian.

Bukan hanya serbuan lebih dari 2.000 tentara bayaran, hujan mortir dan bahkan serangan udara dari jet Fouga Magister juga dihadapi hanya dengan modal nekat dan tidak kenal takut. Pasukan Irlandia yang berharap datangnya bantuan harus gigit jari karena ketidakpedulian komandan kontingen Irlandia Jenderal McEntee yang lebih memilih bermain politik dibanding menyelamatkan anak buahnya.

Pasukan Irlandia baru menyerah ketika banyak yang terluka dan benar-benar sudah kehabisan amunisi, air, dan perbekalan. Hebatnya, tidak seorangpun gugur sementara puluhan tewas di pihak tentara bayaran.

Apa lacur, keberanian dan perlawanan kontingen pasukan perdamaian PBB asal Irlandia ini justru dilupakan di negerinya sendiri, hanya karena keputusan Commandant Pat Quinlan yang memutuskan menyerah karena memang sudah tidak ada opsi lain. Pat Quinlan bahkan dianggap pecundang . Pemerintah Irlandia sendiri baru membersihkan namanya dan anggota Kompi A pada tahun 2004, sesudah Kolonel Pat Quinlan meninggal dunia.

Bagi anda penikmat film berbau mesiu, jangan lewatkan The Siege of Jadotville. Banyak hal menarik bisa disaksikan di film ini, termasuk properti orisinil seperti truk Bedford yang digunakan mengangkut pasukan dan Land Rover klasik. Seragam dan perlengkapan prajurit Irlandia pun dibuat seotentik mungkin.

Sejumlah adegan membuat penonton menahan napas. Contohnya saat Bill Ready menembak jitu dengan Bren. The Siege of Jadotville dijamin akan menjadi tontonan yang enak untuk menghabiskan waktu liburan Anda. So, Netflix and chill bersama The Siege of Jadotville!

Author: Aryo Nugroho