Benarkah Pilot Citilink Mabuk?

12885

Pagi ini, Rabu (28/12/2016) Angkasa menerima informasi tidak mengenakkan. Bagaimana tidak, dari info yang beredar di media sosial, diberitakan ada seorang pilot Citilink yang berbicara ngelantur. Penumpang mengindikasikan pilot tersebut mabuk dan kemudian meminta pilot tersebut diganti. Terjadi sedikit keributan, namun akhirnya pilot diganti dan pesawat tetap terbang. Walaupun ada beberapa penumpang yang akhirnya memutuskan membatalkan penerbangan.

Sebenarnya, bagaimana kejadiannya?

Informasi awal yang diterima Angkasa, penerbangan itu adalah penerbangan reguler Citilink. Jadwal keberangkatannya  pukul 05.15 WIB dengan nomor penerbangan QG 800 rute Bandara Juanda (Surabaya) menuju Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta).  Pesawat yang digunakan adalah Airbus A320 dengan jumlah penumpang 152 dewasa, 9 anak-anak dan 2 bayi.

Capt pilot yang bertugas adalah Capt. Tekad Purna dengan Co-pilot (FO) Bayu Segara. Sedangkan pramugari (flight Attendant ) adalah Rigke Mutya, Anggita Nur, Gunung D dan Iing Radia.

Persoalan terjadi pada sekitar pukul 05.09 WIB ketika pilot tiba di flops dan langsung ke pesawat yang parkir di stand 5A dengan penumpang sedang proses boarding. Pilot masuk ke kokpit dan kemudian melakukan pengumuman ke kabin pesawat.

“Suara pilotnya ngaco. Pakai bahasa campuran Inggris dan Indonesia,” ujar Sutarto Muhammad, salah seorang penumpang yang dihubungi Angkasa. Sutarto yang seorang translator senior bahasa Inggris di Jawa Timur pada awalnya menyangka apa yang diucapkan oleh Capt. Tekad Purna itu semacam kode-kode internal di penerbangan.

“Namun lama-kelamaan kok saya dengar semakin kacau. Saya pikir, ini pilot ngomong aja gak benar kok mau nyopirin pesawat,” lanjutnya. Penumpang yang lain juga terlihat resah. Sedetik kemudian, seorang penumpang pria berdiri dan maju ke depan meminta klarifikasi. Pria tersebut juga menggedor-gedor pintu kokpit, minta pilot keluar. Namun pilot tidak mau keluar.

Setelah sempat ricuh, disepakati adanya pergantian pilot dan penumpang diminta turun dari pesawat terlebih dahulu. Penumpang meminta proses pergantian pilot ada di depan mata mereka, agar penumpang benar-benar merasa nyaman. Setelah sempat tertahan sekitar 65 menit, akhirnya pesawat diterbangkan kembali ke Jakarta pukul 06.20 WIB dengan Capt. pilot Wahana Agus.

Menurut Presiden dan CEO Citilink Albert Burhan yang dihubungi Angkasa, suara pilotnya memang tidak jelas saat memberikan sambutan kepada penumpang tersebut. “Mungkin dia gugup dan merasa bersalah karena agak terlambat datang,” ujar Albert.

Namun Albert juga tidak mau berspekulasi. Pilot yang bersangkutan langsung disuruh melakukan cek kesehatan klinik kesehatan bandara. “Langsung saya minta pilot cek kesehatan di klinik Graha Angkasa Pura I. Setelah diperiksa  oleh dr. Putu, hasil drug and alcohol test adalah negatif,” lanjutnya lagi. Albert juga sudah melaporkan terkait kejadian tersebut kepada Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Untuk antisipasi lebih lanjut, Albert juga mengistirahatkan pilot tersebut pada hari ini. Terlebih lagi Dirjen Perhubungan Udara Suprasetyo juga meminta pilot tersebut melakukan medical check-up ulang di Balai Kesehatan Penerbangan Jakarta. “Capt. Pilot bernama Tekad Purna tersebut harus melakukan medical check-up ke kantor Kesehatan Penerbangan hari ini juga,” ujar Suprasetyo.

Menurutnya, tidak ada toleransi dalam hal keselamatan dan keamanan penerbangan. Segala sesuatu yang berpotensi mengganggu keselamatan dan keamanan penerbangan harus dicegah sedini mungkin.

Memang, menurut hemat Angkasa, apa yang dinyatakan Dirjen Perhubungan Udara Suprasetyo sangat benar. Karena keselamatan dan keamanan penerbangan menyangkut nyawa manusia. Apa yang dilakukan oleh penumpang dan manajemen Citilink juga sudah tepat.

Peristiwa ini sebenarnya lebih banyak terkait komunikasi. Terutama terkait hal-hal tentang penerbangan. Dalam penerbangan, terutama dalam hal kemampuan pilot dalam menerbangkan pesawat sudah diatur secara rinci dan rigid. Baik dalam aturan internasional maupun nasional.

Misalnya saja dalam Civil Aviation Safety Regulation (CASR) part 67, soal tes kesehatan pilot, harus dilakukan setiap 6 bulan sekali. Bahkan Menteri Perhubungan sebelumnya, Ignasius Jonan pernah menyatakan bahwa pilot sebelum terbang harus diperiksa dulu untuk memastikan kesehatannya. Tes kesehatan juga dilakukan di tempat khusus kesehatan penerbangan. Tidak sembarang  rumah sakit atau klinik bisa melakukan tes kesehatan pilot ini.

Selain itu, untuk menjaga kesehatannya, jam terbang pilot juga dibatasi maksimal 1050 jam terbang setiap tahun, seperti tertera dalam CASR part 121. Jumlah jam terbang tersebut harus didistribusi setiap hari dengan memperhatikan aturan-aturan yang lain seperti misalnya aturan ketenagakerjaan. Jadi biasanya maksimal pilot bekerja 8 jam setiap hari. Bahkan ada yang kurang dari itu, tergantung ketersediaan jam terbang masing-masing maskapai.

Beberapa maskapai juga melarang pilotnya untuk melakukan olahraga tertentu atau mengkonsumsi makanan-minuman tertentu. Hal ini demi menjaga kesehatan pilotnya, yang merupakan aset termahal yang dimiliki maskapai.

Jika semua aturan tersebut tidak dilakukan, tidak saja pilotnya yang akan kena grounded, masakapainya juga akan kena sanksi. Bahkan negara sebagai otoritas regulator penerbangan juga akan kena sanksi. Indonesia  tentu saja masih merasakan sakitnya terkena sanksi larangan terbang dari Uni Eropa dan FAA Amerika. Untunglah sanksi dari FAA sudah bisa dicabut. Namun tentu saja Indonesia harus terus menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan pada level yang tinggi.

Dengan semua aturan yang ketat dan rigid tersebut, memang seperti tidak mungkin ada kejadian pilot yang kurang sehat menerbangkan pesawat. Namun demikian, apa yang dilakukan para penumpang Citilink tadi pagi juga bukan tindakan yang tidak benar. Karena mereka juga mempunyai hak untuk mengetahui penerbangannya akan dioperasikan oleh personil-personil yang berkompeten.

Dan memang ini adalah semata-mata adalah masalah komunikasi belaka. Operator penerbangan seperti maskapai dan pengelola bandara harus bekerjasama dengan regulator untuk terus menerus menegakkan dan mensosialisasikan aturan-aturan penerbangan tersebut. Menegakkan dalam arti melaksanakan dengan patuh dan konsisten apa yang sudah tertulis dalam aturan.

Seperti misalnya hasil dari medical check-up pilot yang bersangkutan, bisa disosialisasikan kepada masyarakat dalam tahap-tahap tertentu yang dibolehkan oleh aturan medis. Hal ini untuk menentramkan hati masyarakat dan juga bisa bisa mengembalikan kredibilitas maskapai Citilink sendiri.

Dengan sosialisasi tersebut, diharapkan dunia penerbangan menjadi habbit di masyarakat kita. Masyarakat dan penumpang menjadi sadar tentang apa yang boleh dan tidak boleh serta aturan-aturan main di penerbangan. Dan dengan demikian, masyarakat bisa menjadi partner sekaligus pengawas agar operasional penerbangan berjalan selamat, aman dan nyaman serta menguntungkan bagi semua pihak.

Salam dirgantara…

Author: Gara