Insiden dan Pengalaman Seorang Penerjun Wanita Profesional

760
wingsuit dan belly flying
Sumber gambar: Julius Rendy

Mencoba dan belajar olahraga ekstrim memang tidak mudah, perlu latihan ekstra dan jam terbang tinggi untuk benar-benar mahir, apalagi berprestasi. Seorang penerjun profesional  seperti Naila Novaranti pun pernah mengalami insiden dan pengalaman saat merintis menjadi seorang penerjun wanita profesional.

Naila mengatakan, pada tahun 2006 saat masih menjadi siswa, pertama kali terjun dan pertama kali keluar dari pesawat ia mengaku tidak merasa takut karena saat itu ada yang menjaga. Namun untuk pertama kali melakukan pendaratan itulah yang berkesan dan masih teringat sampai saat ini. “Itu daratan sepertinya cepat sekali sampai. Sepertinya kencang, nih,” ungkap Naila di kepada Angkasa beberapa waktu lalu.

Ia bercerita saat masih menjadi siswa pernah mengalami insiden yang membuat tulang ekornya retak karena payung yang lupa ia gulung saat mendarat. “Waktu masih student, biasa kan ya liat kamera, tp-tp (tebar pesona), kalo sama kamera kan saya senang. Cuma begitu mendarat saya lupa payungnya tidak saya gulung. Jadi tertarik ke belakang, tulang ekor saya retak,” ujarnya.

“Biasalah badung, pakai banyak macam gaya untuk mendarat, akhirnya keserimpet,” imbuhnya.

Naila memiliki pengalaman yang cukup berkesan lainnya. Ia pernah panik dan tegang saat wingsuit-nya berputar tak kunjung henti. “Panik juga saat itu. Untuk menghentikannya kita harus deploy parachute, jadi otomatis biasanya kita cut away. Untuk memperlambat rotasi, satu-satunya jalan ya harus dibuka parasutnya,” ungkapnya.

Namun sederet insiden dan pengalaman buruk tersebut tak mengecilkan hatinya untuk terus menekuni dunia penerjunan. Naila adalah sosok wanita bermental baja dibalik parasnya yang feminim. Terbukti, saat ini ia dipercaya oleh Aerodyne Research Manufacturing untuk posisi Military Division dan melatih militer untuk terjun dengan lebih profesional.

Author: Fery Setiawan