Tunnel di Freeport Gunakan Teknologi Seperti Pesawat Terbang

7104
pesawat terbang
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Marsekal (Purn) Chappy Hakim. Sumber gambar: Ery

Lapisan udara tempat beradanya manusia serta makhluk hidup lainnya di muka bumi dinamakan dengan atmosfer. Berdasarkan prinsip dalam pengetahuan umum, semakin menuju pada suatu ketinggian tempat, maka yang terjadi adalah kadar oksigen dan tekanan udara akan berkurang dan menurun. Hal yang berlawanan akan terjadi bila kita mencapai atau menuju pada suatu kedalaman dari permukaan tanah atau bumi.

“Benar sekali, persoalan yang terjadi bila manusia tidak berada di permukaan tanah adalah kadar oksigen. Itu sebabnya kalau kita sedang berada di ketinggian merasa pusing dan sebagainya, itu adalah gejala yang kita sebut dengan hypoxia, yaitu kekurangan kadar oksigen,” terang Presiden Direktur, Chappy Hakim usai menerima tiga penghargaan dari MURI di Kantornya, Jakarta, , Senin (9/1/2017).

Nah kalau kita ke bawah tanah bukan hanya sekadar kadar oksigen, lanjut Chappy menerangkan, tetapi udara juga jadi permasalahan besar.

Berita Terkait: Belum Genap 2 Bulan, Mantan KSAU Ini Borong 3 Rekor MURI

“Dengan demikian ketika berada di ketinggian atau di bawah, maka yang berperan di sana apabila berbicara tentang teknologi sebuah pesawat atau kapal selam, ada satu sistem yang bernama air conditioning and pressurization system. Tapi intinya adalah sama, berusaha menyamakan udara itu seperti di atmosfer,” jelas sang Purnawirawan TNI AU ini kepada Angkasa.

Walaupun menggunakan air conditioning and pressurization system seperti di pesawat, yang digunakan di tunnel Freeport memiliki perbedaan.

“Sedikit berbeda dengan yang di pesawat. Intinya adalah bahwa kita memompakan udara luar ke dalam terowongan itu, sehingga kondisi di dalam terowongan itu sama dengan kondisi udara luar. Tetapi tetap dingin, karena udara luarnya memang sudah dingin, karena berada pada ketinggian 3.000-4.000 mdpl,” papar mantan KSAU periode 2002-2005 ini.

Baca Juga:

Apa Kata Chappy Hakim Soal Operasional Maskapai di Lanud?

Chappy Hakim: Kembalikan Halim sebagai Prasarana Hankamneg

Itu cukup dingin, kata Cheppy, tetapi mereka yang di dalam tidak akan kekurangan oksigen atau tidak akan kekurangan udara yang sehat. Jadi sistemnya udara luar disalurkan kedalam, udara kotor dibuang ke luar.

“Dalam bawah tanah ini, dalam tunnel ini yang mirip dengan pesawat, tapi mudahnya adalah, udara luar itu disalurkan ke berbagai tunnel di bawah tanah itu, sehingga ada perputaran udara yang memungkinkan manusia bisa bernafas dengan normal,” terangnya.

Orang nomor satu di Freport Indonesia ini juga mengatakan bahwa, perusahaan tambah asal Amerika Serikat (AS) yang kini ia pimpin akan mulai membangun tambang di bawah tanah yang nantinya akan menjadi tambang bawah tanah yang terpanjang dan terbesar di seluruh dunia.

Baca Juga:

Rusia Buat Pesawat Hipersonik yang Mampu Tembus Pertahanan Rudal  Musuh

Pesawat Intai Hipersonik SR-72 Siap Terbang

Author: Fery Setiawan